Inner beauty

Inner beauty tak sekedar kecerdasan atau kebiasaan beraktualisasi belaka, sabagaimana yang didengungkan oleh konteks-konteks kecantikan yang justru menurunkan derajat dan kodrat wanita. Inner beauty adalah sebuah kecantikan yang disusun oleh simpul keimanan dan ketakwaan, berhiaskan akhlak mulia, dan bermahkota ketulusan dalam beramal shalih serta berbuahkan kebaikan di setiap langkahnya. Subhanalloh, inilah kecantikan sesungguhnya. Kecantikan yang di dambakan oleh setiap orang beriman…keep your inner beauty ^^

HATI-HATI!!!JANGAN ASAL MAU DISUNTIK!!!

Berawal ketika dapat cerita dari teman, ketika kita sharing tentang persiapan pernikahan. Temen saya bilang kalau sebelum ke KUA, calon mempelai putri harus mendapatkan surat keterangan sehat dari dokter. Khususnya di kelurahan saya, surat keterangan sehat akan dikeluarkan jika calon mempelai putrinya bersedia disuntik vaksin tetanus. Saya bertanya” Tetanus itu apa thoh?. “Saya juga tidak tahu, tapi katanya sebagai antibodi dari zat asing yang masuk”kata temenku. Dalam pikir olehku, kenapa manusia yang sehat mesti ditambah zat antibodi lagi? bukannya tubuh punya antibodi tersendiri. Lagipula aku pernah tanya sama Ibuku dan mbah Putri, apakah mereka disuntik? jawabannya TIDAK!!! dan buktinya anaknya juga sekarang sehat-sehat dan malah bisa punya anak banyak. Akhirnya, ketika searching di google Alhamdulillah saya menemukan artikel ini. WAJIB bagi calon pengantin putri baca ini!!!

VAKSIN dan Imunisasi = Tipu Muslihat Yahudi Menghancurkan Umat Lain

Vaksin dan imunisasi adalah konspirasi besar besaran dari keluarga Yahudi ternama di Amrik, yaitu Rockefeller, Rockefeller itu mendanai besar²an proyek imunisasi maupun vaksin ini. Dia adalah salah satu pendiri WHO plus CIA!

Beberapa ilmuwan Amerika bahkan ilmuwan di penjuru dunia konon tahu seluk beluk konspirasi vaksin ini, dan berikut team situslakalaka mengutip sebagian beberapa pendapat para ilmuwan mengenai vaksinasi:

“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.” (Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris)

“Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”. (dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional)

“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.” (Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962)

“Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” (Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”)

Yang paling membuat merinding adalah pernyataan terakhir dari William Hay, secara logis penjelasannya sangat sangat masuk akal, lalu kenapa sedari dulu vaksin dan imunisasi seperti sudah menjadi kebudayaan kita semua? Menurut sumber yang kami baca, vaksin yang diproduksi dan dikirim ke seluruh dunia khususnya negara muslim, negara dunia ketiga bahkan negara berkembang adalah suatu cara untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara tersebut, sangat gila bukan! jika hal tersebut memang benar, sudah dari dulu darah kita sebagai orang Indonesia terkontaminasi racun berbentuk vaksin ini!

Vaksin sendiri apakah kita pernah tahu darimana asalnya? Maen suntik dan berkembang saja sedemikian rupa di tubuh kita selama bertahun tahun, konon katanya ada DNA orang asing yang mengalir di darah kita, dan bisa anda bayangkan jika anda baru punya anak yang masih lucu dan imut imutnya serta masih suci dari penyakit disuntikan vaksin yang ternyata DNA entah siapa, dan mulai merusak DNA asli anak anda?!

Vaksin sendiri diketahui mengandung asam amino dari babi!
Penjelasan ilmiahnya, asam amino babi itu relatif sama bahkan hanya berbeda 1 point secara matematis dan ilmiah tentunya jika dibandingkan dengan asam amino manusia, hal tersebut menyebabkan kita sama saja dengan kanibal bukan?! Lalu jika sudah masuk itu asam amino babi, otomatis masuk juga semua hal yang ada di dalam babi, for example: sifat buruk babi (??), penyakit cacing pita babi dan masih banyak lagi! Dan ternyata bencana akibat vaksin ini banyak loh di belahan dunia, hanya saja tidak pernah dipublikasikan! Tanya kenapa? Contohnya antara lain:

Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia di mana pertusis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal.

Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus, di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus.

Penularan polio dalam skala besar, menyerang anak-anak di Nigeria Utara berpenduduk muslim. Hal itu terjadi setelah diberikan vaksinasi polio, sumbangan AS untuk penduduk muslim. Beberapa pemimpin Islam lokal menuduh Pemerintah Federal Nigeria menjadi bagian dari pelaksanaan rencana Amerika untuk menghabiskan orang-orang Muslim dengan menggunakan vaksin.

Setiap program vaksin dari WHO di laksanakan di Afrika dan Negara-negara dunia ketiga lainnya, hampir selalu terdapat penjangkitan penyakit-penyakit berbahaya di lokasi program vaksin dilakukan. Virus HIV penyebab Aids di perkenalkan lewat program WHO melalui komunitas homoseksual melalui vaksin hepatitis dan masuk ke Afrika tengah melalui vaksin cacar.

Desember 2002, Menteri Kesehatan Amerika, Tommy G. Thompson menyatakan, tidak merencanakan memberi suntikan vaksin cacar. Dia juga merekomendasikan kepada anggota kabinet lainnya untuk tidak meminta pelaksaanaan vaksin itu. Sejak vaksinasi massal diterapkan pada jutaan bayi, banyak dilaporkan berbagai gangguan serius pada otak, jantung, sistem metabolisme, dan gangguan lain mulai mengisi halaman-halaman jurnal kesehatan.

Dan masih banyak lagi kasus yang bermasalah karena vaksin. Dan konspirasi ini bisa benar adanya karena data datanya bisa dibilang cukup akurat, logikanya tubuh manusia mempunyai sistem kekebalan sendiri bukan? Bukan berarti dengan disuntikan suatu obat dia malah akan menjadi makin kebal terhadap penyakit, masalahnya penyakit apa? Justru penyakit datang setelah disuntik!

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8600755
Semoga kita termasuk umat nabi Muhammad SAW yang kelak melahirkan keturunan islam yang kuat dan berkepribadian Quran

Lakukan sesuatu dengan ilmu agar lebih mantab dan manfaat

Untuk kamu suamiku…

rasanya sama dengan para istri manapun di muka bumi ini. kuharap kamu tetap dalam kebaikan, penuh perhatian dan kasih sayang terhadapku, anak-anakku dan keluarga besar kita seperti sekarang. kalau ada yang berubah biarlah fisikmu saja. sebab tua adalah keniscayaan. namun hati dan cintamu tetap segar dan mekar agar kita selalu bahagia dan bersama dalam menapaki masa hingga ke syurgaNya…

inspired by Asma’

Ketika Allah menjadi alasan paling utama

Ketika Allah menjadi alasan paling utama,

 

maka aku berani memutuskan untuk menikah dan menyegerakannya.

 

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan dengan siapa aku akan menikah. Aku tidak banyak bertanya tentang calon istriku, aku jemput dia di tempat yang Allah suka, dan satu hal yang pasti, aku tidak ikut mencampuri ataupun mengatur apa-apa yang menjadi urusan Allah. Sehingga aku nikahi seorang wanita tegar dan begitu berbakti kepada suami.

 

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat segala kekurangan istriku. Dan sekuat tenaga pula, aku mencoba membahagiakan dia.

 

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka menetes air mataku saat melihat segala kebaikan dan kelebihan istriku, yang rasanya sulit aku tandingi.

 

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka akupun berdoa, Yaa Allah, jadikan dia, seorang wanita, istri dan ibu anak-anakku, yang dapat menjadi jalan menuju surgamu. Amin.

 

Sahabat-sahabat, kalau Allah menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka seharusnya tidak ada lagi istilah, mencari yang cocok, yang ideal, yang menggetarkan hati, yang menentramkan jiwa, yang…..yang…yang……dan 1000 yang……lainnya…..Karena semua itu baru akan muncul justru setelah melewati jenjang pernikahan.

 

Niatkan semua karena Allah dan yakinlah kepada Sang Maha Penentu segalanya.

 

 

Sahabat-sahabat,

 

Ketika usiaku 25 tahun, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup. Karena itu, aku meminta jodoh kepada Allah dengan banyak kriteria. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

 

Ketika usiaku 30 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah? Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang jodoh kepada Allah. Rupanya masih terlalu banyak. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

 

Ketika usiaku 35 tahun, aku bertekad, bagaimanapun caranya, aku harus menikah. Saat itulah, aku menyadari, terlalu banyak yang aku minta kepada Allah soal jodoh yang aku inginkan. Mulailah aku mengurangi kriteria yang selama ini menghambat niatku untuk segera menikah, dengan bercermin pada diriku sendiri.

 

Ketika aku minta yang cantik, aku berpikir, sudah tampankah aku?

Ketika aku minta yang cukup harta, aku berpikir, sudah cukupkah hartaku?

Ketika aku minta yang baik, aku berpikir, sudah cukup baikkah diriku?

Bahkan ketika aku minta yang solehah, bergetar seluruh tubuhku sambil berpikir keras di hadapan cermin, sudah solehkah aku?

 

Ketika aku meminta sedikit….. Ya Allah, berikan aku jodoh yang sehat jasmani dan rohani

dan mau menerima aku apa adanya, masih belum ada tanda-tanda Allah akan mengabulkan niatku.

 

Dan ketika aku meminta sedikit…sedikit. ..sedikit. ..lebih sedikit….. Ya Allah, siapapun wanita yang langsung menerima ajakanku untuk menikah tanpa banyak bertanya, berarti dia jodohku. Dan Allahpun mulai menujukkan tanda-tanda akan mengabulkan niatku untuk segera menikah. Semua urusan begitu cepat dan mudah aku laksanakan.

 

Alhamdulillah, ketika aku meminta sedikit, Allah memberi jauh lebih banyak. Kini, aku menjadi suami dari seorang istri yang melahirkan dua orang anakku.

 

Sahabatku, 10 tahun harus aku lewati dengan sia-sia hanya karena permintaanku yang terlalu banyak. Aku yakin, sahabat-sahabat jauh lebih mampu dan lebih baik daripada yang suadh aku jalani. Aku yakin, sahabat-sahabat tidak perlu waktu 10 tahun untuk mengurangi kriteria soal jodoh. Harus lebih cepat!!!

 

Terus berjuang saudaraku, semoga Allah merahmati dan meridhoi kita semua. Amin.

 

 

Oleh: Rico Atmaka

Koordinator Majelis Sehati

Daarut Tauhiid Jakarta

 

Alur perayaan cinta

Picture Bride, film berdasar sejarah migrasi orang-orang Jepang ke Pasifik itu memang memikat. Asli! Tak heran, dalam Sundance Film Festival 1995, film ini meraih penghargaan pilihan pemirsa. Kayo Hatta, sang sutradara, yang menggarap film ini sepanjang tahun 1994 berhasil menghadirkan suatu kisah dramatis tentang wanita-wanita Jepang yang berani memutuskan menikahi para perantau yang telah lebih dahulu berada di Hawaii, dengan spekulasi sangat tinggi.

 

Hanya satu informasi yang mereka tahu tentang calon suaminya: selembar foto! Dan konflik digarap seru, ketika ternyata foto itu adalah selembar foto yang diambil 20 tahun yang lalu. Apakah mereka masih bicara cinta?

 

Jangan kau kira cinta datang dari keakraban

yang lama dan pendekatan yang tekun.

Cinta adalah anak kecocokan jiwa dan

jika itu tak pernah ada, cinta tak pernah 

tercipta dalam hitungan tahun

bahkan abad.

(Kahlil Gibran)

 

Saya punya satu kisah lagi yang tak kalah menarik dengan Picture Bride. David Weinlick nama pria itu. Tanggal 13 Juni 1998 jam 11 siang, Dave berdiri di Mall of America di Minneapolis untuk menikah. Tetapi ia belum tahu dengan siapa. Sebuah panitia yang dipimpin psikolog tenar Steve Fletcher sedang memilihkan calon mempelai wanita untuknya melalui serangkaian wawancara dengan 26 orang calon yang telah mendaftar sejak Dave ’diiklankan’ di televisi. Wow !!! Acara di mall ini melebihi apa yang diperkirakan Fletcher, ditonton ribuan orang dan ditayangkan live oleh stasiun televisi dari 6 negara.

 

Richard Carlson, Ph.D., kolega Fletcher yang kita kenal di Indonesia melalui rangkaian buku psiko-pop karyanya Don’t Sweat Little Stuff mengisahkan ketakjubannya bahwa Fletcher dan timnya memulai acara di jam 7 pagi, mulai memilih jam 13.30, dan Elizabeth Runze sang mempelai wanita terpilih dan dinikahkan dengan Dave tepat pukul 16.00. Satu menit menuju pernikahan. Sekali lagi ”Wow !”, kata Carlson. Siapa yang was-was selalu? Tentu saja Steve Fletcher, sang comblang yang jauh-jauh hari telah dikatai bercanda, gila, dan mabuk saat menyelenggarakan acara ini.

 

Selama beberapa tahun ia terus menjalin komunikasi dengan Dave dan Elizabeth. Ia selalu bertanya, ”Bagaimana?” Dan hingga kini ia tersenyum karena mereka masih saling mabuk kepayang pada pasangan hidupnya dalam sebuah rumah tangga harmonis yang sering terasa utopis bagi orang Amerika.

 

Bagi mereka yang mengupayakan cinta, 

hanya ada iklim hangat dan iklim sejuk meski ada goda aurora dan pelangi khatulistiwa. 

Bagi mereka yang mengupayakan cinta, 

setiap musim membagi cinderamata kristal salju, kuntum bunga, pasir pantai, 

serasa hangat juga payung dan layang-layang.

Bagi mereka yang mengupayakan cinta, 

di tiap cuaca cerah berbagi harapan, awan bersulam rahmat, 

hujan menyanyi rizqi, badai mengeratkan peluk 

dan tiba-tiba, surga mengetuk pintu rumah. 

 

Apa rahasia kesuksesan pernikahan mereka?

 

”Mengapa kau yakin ini akan berhasil?”, tanya teman-teman.

Kata Elizabeth, ”Karena aku yakin ini akan berhasil. Sesederhana itu. Aku fokus pada apa yang dibutuhkan untuk membangun kehidupan bersama yang panjang dan penuh kebahagiaan.”

 

Bagaimanapun, saya kagum pada kisah ini. Saya lalu teringat pada beberapa undangan walimah di atas meja yang mencantumkan ayat Allah, Surat Ar Ruum ayat 21.

 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaaj (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

 

Saya pikir, inilah yang kita punya. Inilah manhaj yang seharusnya kita jadikan plot (alur) dalam merayakan cinta. Sedihnya, kebanyakan mereka yang mencantumkannya dengan tinta emas di atas undangan mewah tak menghayati maknanya. Ringkasnya, ada beberapa kata kunci yang saya tangkap dari ayat ini.

 

 

Min anfusikum. Dari jiwa-jiwa kalian. Artinya, hal pertama yang dibicarakan Al Quran tentang pernikahan dua manusia adalah kesejiwaan. Ruh itu, kata Nabi seperti tentara. Jika kode sama, sandinya nyambung, meskipun belum saling melihat mereka pasti bersepakat. Jika tidak, ya tembak dulu, urusan belakangan. Kodenya saja sudah nggak nyambung sih.

Nah, apa sih kode dan sandi untuk ruh? Komitmen kepada Allah dan agamanya. Itu saja. Itulah kesejiwaan.

Dave dan Elizabeth menunjukkan pada kita bahwa sekedar komitmen untuk membina rumahtangga bahagia saja bisa sedemikian kuat. Apalagi komitmen yang lebih besar seperti kesamaan visi untuk memperjuangkan agama Allah?

 

 

Azwaajan. Pasangan hidup. Tak berlama-lama, sesudah kesesuaian jiwa, Al Quran segera mengatakan bahwa mereka menjadi suami isteri.

Saya tergelitik dengan pesan Dave yang mengisyaratkan kuatnya komitmen mengalahkan kekanak-kanakan jiwa.

”Orang selalu berpikir”, kata Dave, ”Bahwa kita harus mencari pasangan yang tepat, maka hubungan akan berhasil. Aku ingin katakan, berhentilah mencari orang yang tepat, dan jadikan orang di samping anda yang memang hebat itu menjadi orang yang tepat!”

Dave mengajari kita menjadi manusia yang lebih tinggi, manusia yang ’menjadikan’, bukan sekedar ’mencari’. Dan Dave benar.

Ada dua hal di dunia ini. Menikahi orang yang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi. Yang pertama hanyalah kemungkinan. Sedangkan yang kedua adalah kewajiban.

 

 

Litaskunuu ilaihaa. Supaya kalian tenteram, tenang, padanya.

Unik sekali. Kata hubung yang dipakai adalah huruf lam (li) yang menunjukkan otomatis.

Kata Allah, kalau pernikahan dimulai dari kesejiwaan, maka otomatis seorang suami akan merasakan ketenteraman pada isterinya, dan seorang isteri akan merasakan ketenangan pada suaminya.

Lhoh, kok banyak rumahtangga tidak sakinah? Mungkin karena tidak dimulai dari kesejiwaan sehingga untuk sekedar tenteram saja ikhtiyarnya harus luar biasa keras.

 

 

Apa sih sakinah itu? Sederhananya, sakinah inilah yang menyebabkan pernikahan disebut separuh agama seseorang. Dengannya seorang insan bisa mengoptimalkan potensinya untuk menjadi ’Abdullah (hamba Allah), dan khalifah (pengelola nikmat-nikmatNya untuk kemashlahatan alam semesta). Tenteram karena gejolak syahwat telah menemukan saluran yang halal dan thayyib, tenang karena ada sahabat lekat yang siap mendukung perjuangan.

 

 

Wa ja’ala bainakum mawaddatan. Kemudian ada yang harus diproses, diupayakan, yakni mawaddah. Apa itu mawaddah? Wah, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memang kekurangan kosakata untuk cinta. Hanya cinta dan love. Padahal bahasa Arab punya empat belas.

Nah, saya membandingkan pemaknaan Ibnul Qayyim Al Jauziyah terhadap mawaddah dalam buku Raudhatul Muhibbin dengan salah satu jenis cinta yang disebut Erich Fromm dalam The Art of Loving sebagai cinta yang erotis-romantis. Nah, ternyata bisa disejajarkan.

Jadi mawaddah adalah cinta yang erotis-romantis. Bentuknya bisa ekspresi yang paling bathin sampai paling zhahir, dari yang sifatnya emosional hingga seksual. Inilah mawaddah.

 

 

Wa (ja’ala bainakum) rahmatan. Yang harus diusahakan bukan cuma mawaddah tapi juga rahmah. Ini juga cinta lho, bukan sekedar kasih sayang.

Cinta yang bagaimana? Cinta yang seperti lagu, kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. He he, jadi ingat waktu TK.

Inilah cinta yang memberi -bukan meminta-, berkorban -bukan menuntut-, berinisiatif –bukan menunggu-, dan bersedia, -bukan berharap-harap. Erich Fromm menyebutnya cinta keibuan.

 

 

Nah, sekilas inilah alur perayaan cinta yang dituntunkan Al Quran. Jika kita mendesain perayaan cinta dengan plot ini, tanpa bermaksud lancang pada Allah saya berani menjamin bahwa dalam pernikahan kita bisa menemukan Bahagianya Merayakan Cinta, buku saya yang keempat itu.

 

Nah, kok banyak pernikahan yang error? Biasanya karena plotnya kacau. Pernikahan tidak dimulai dengan kesejiwaan tapi justru dengan mawaddah. Sebelum menikah mereka sudah menikmati cinta yang erotis-romantis. Entah apa namanya. Pacaran. TTM. HTS. Semuanya adalah mawaddah. Tanpa sakinah, apalagi rahmah. Perhatian, kado, bunga, coklat, kedekatan, khalwat, bersentuhan, pandangan. Itu semua mawaddah. Bahkan sms berisi nasehat “Bertaqwalah pada Allah”, missedcall tahajjud, hadiah buku & kaset nasyid berjudul Jagalah Hati, dan seterusnya, itu juga mawaddah.

 

Bentuknya saja yang berbeda. Yang satu bunga dan coklat valentine. Yang lain buku dan kaset da’wah. Tetapi sensasi yang dirasakan oleh pemberi dan penerima sebenarnya sama: mawaddah. Demi Allah, silakan pasang ECG (Electro Cardiograph) di jantungnya dan EEG (Electro Encephalograph) di otaknya. Sinyal yang dihasilkan persis. Artinya sensasi yang dirasakan sama..

 

Nah, hati-hati dengan mawaddah. Biasanya meski engkau wahai aktivis da’wah, memulai dengan kesejiwaan, coba-coba mencicipi mawaddah sebelum dihalalkan akan mengaburkan kesejiwaan itu dan membuat segalanya berantakan. Celakalah mereka yang menikmati mawaddah sebelum waktunya! Katakan, ”Aamiin..!”

 

 

Ditulis oleh Salim A. Fillah, dalam buku Saksikan Aku Seorang Muslim

Sumber: Gust’s Site

 

 

Ada Apa Dibalik Pernikahan?

Nikah. Untuk satu kata ini, banyak pandangan sekaligus komentar yang berkaitan dengannya. Bahkan sehari-hari pun, sedikit atau banyak, tentu pembicaraan kita akan bersinggungan dengan hal yang satu ini. Tak terlalu banyak beda, apakah di majelisnya para lelaki, pun di majelisnya wanita.

Sedikit di antara komentar yang bisa kita dengar dari suara-suara di sekitar, di antaranya ada yang agak sinis, yang lain merasa keberatan, menyepelekan, atau cuek-cuek saja.

Mereka yang menyepelekan nikah, bilang, “Apa tidak ada alternatif yang lain selain nikah?” atau “Apa untungnya nikah?”

Bagi yang merasa berat pun berkomentar, “Kalau sudah nikah, kita akan terikat alias tidak bebas.” semakna dengan itu, “Nikah! Jelasnya bikin repot, apalagi kalau sudah punya anak.”

Yang lumayan banyak ‘penggemarnya’ adalah yang mengatakan, “Saya pingin meniti karier terlebih dahulu, nikah bagi saya itu gampang kok.”

Terakhir, para orangtua pun turut memberi nasihat untuk anak-anaknya, “Kamu nggak usah buru-buru menikah, cari duit dulu yang banyak.”

Ironisnya bersamaan dengan banyak orang yang ‘enggan’ nikah, ternyata angka perzinaan atau ‘kecelakaan’ semakin meninggi!

Itu beberapa pandangan orang tentang pernikahan.

Tentu saja tidak semua orang berpandangan seperti itu. Sebagai seorang muslim tentu kita akan berupaya menimbang segalanya sesuai dengan kacamata Islam. Apa yang dikatakan baik oleh syari’at kita, pastinya baik bagi kita. Sebaliknya, bila Islam bilang sesuatu itu jelek, pasti jelek bagi kita. Karena pembuat syari’at, yaitu Allah adalah yang menciptakan kita, yang tentu saja lebih tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita.

Persoalan yang mungkin muncul di tengah masyarakat kita sehingga timbul berbagai komentar seperti di atas, tak lepas dari kesalahpahaman atau ketidaktahuan seseorang tentang tujuan nikah itu sendiri.

Nikah di dalam pandangan Islam, memiliki kedudukan yang begitu agung. Ia bahkan merupakan sunnah (ajaran) para nabi dan rasul, seperti firman Allah, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d : 38).

Sedikit memberikan gambaran kepada kita, nikah di dalam ajaran Islam memiliki beberapa tujuan yang mulia, di antaranya :
• Nikah dimaksudkan untuk menjaga keturunan, mempertahankan kelangsungan generasi manusia. Tak hanya untuk memperbanyak generasi saja, namun tujuan dari adanya kelangsungan generasi tersebut adalah tetap tegaknya generasi yang akan membela syari’at Allah, meninggikan dinul Islam , memakmurkan alam, dan memperbaiki bumi.
• Memelihara kehormatan diri, menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan, sekaligus menjaga kesucian diri.
• Mewujudkan maksud pernikahan yang lain, seperti menciptakan ketenangan, ketenteraman.
Kita bisa menyaksikan begitu harmoninya perpaduan antara kekuatan laki-laki dan kelembutan seorang wanita yang diikat dengan tali pernikahan, sungguh merupakan perpaduan yang begitu sempurna.

Pernikahan pun menjadi sebab kayanya seseorang, dan terangkat kemiskinannya. Nikah juga mengangkat wanita dan pria dari cengkeraman fitnah kepada kehidupan yang hakiki dan suci (terjaga). Diperoleh pula kesempurnaan pemenuhan kebutuhan biologis dengan jalan yang disyari’atkan oleh Allah.

Sebuah pernikahan, mewujudkan kesempurnaan kedua belah pihak dengan kekhususannya. Tumbuh dari sebuah pernikahan adanya sebuah ikatan yang dibangun di atas perasaan cinta dan kasih sayang.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).

Itulah beberapa tujuan mulia yang dikehendaki oleh Islam. Tentu saja tak keluar dari tujuan utama kehidupan yaitu beribadah kepada Allah.

Sumber: Panduan Pernikahan dalam Islam

Perbaikan Jiwa

Untuk merawat dan memperbaiki kerusakan hati dan jiwa pada diri individu manusia, Allah SWT telah menciptakan Ramadhan untuk memperbaiki dan merawat raga dan jiwa bagi setiap insan manusia. Agar manusia menjadi manusia yang bertaqwa dan kembali kepada fitrahnya. Tidak akan pernah terbayangkan dalam benak kita semua, bahwa di bulan Ramadhan terdapat pelayanan yang sangat prima dengan kecanggihan luar biasa dari para malaikat yang diperuntukan bagi hamba hamba Alah SWT yang menjalankan ritual ibadah puasa wajib. Pelayanan dan sentuhan dari para malaikat yang tidak kasat mata selalu akrab dengan orang yang menjalankan ritual ibadah puasa. Para malaikat membawa rahmat dan maghfirah yang langsung dari Allah SWT. Hal ini terus terjadi, kapan saja manusia menghendakinya dengan penuh harapan kepada Allah SWT. Dan hal ini hanya berlaku bagi mereka yang beriman kepada Allah SWT. Kebanyakan manusia tidak tahan melewati hari hari pada saat menjalankan ritual ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hal ini terjadi karena proses perbaikan diri manusia yang membongkar habis dalam hal perbaikan dan pembenahan jasmani dan ruhaniah di setiap individu manusia. Sedangkan yang menjadi aturan dalam Ramadhan pun terkait dengan perbuatan yang menjadi kebutuhan utama kehidupan manusia dalam keseharian didalam menjalankan ritual spiritualnya dan sosialisasi di tengah kehidupan bermasyarakat. Dan proses mensucikan jiwa harus menyeluruh, dalam arti, bahwa pembersihan jiwa merupakan perbaikan seluruh dimensi kepribadian yang membentuk diri kita sebagai orang yang beriman dan bertaqwa. Perbaikan diri hendaknya mengarah kepada kesuksesan dan kejayaan hidup sesuai dengan perspektif Al Qur’an. Bila kita rujuk surah Al Hajj: 77, maka Allah memberikan gambaran bahwa kesuksesan itu dapat diraih melalui dua pilar kegiatan: · Meningkatkan hubungan dengan Allah SWT melalui serangkaian ibadah yang berkualitas · Meningkatkan kinerja ‘amal khoir, yang berorientasi pada kemaslahatan hidup dan kehidupan ummat. Sesungguhnya, dengan mengacu kepada kedua pilar itu arah kejayaan hidup menjadi sangat terang dan jelas, dan langkah-langkah perbaikan diri dapat dikembangkan berdasarkan kedua pilar tersebut dalam rangka mempersiapkan diri meraih kesuksesan dan kejayaan. Langkah-langkah perbaikan diri tersebut meliputi: Perbaikan Ruhiyah. Perbaikan aspek ini penting dilakukan untuk meningkatkan pengendalian diri (nafsu) menghadapi segala rangsangan kehidupan dunia yang menggiurkan maupun ancaman kehidupan yang mengguncangkan. Inti perbaikan ruhiyah adalah meningkatnya hubungan dengan Allah SWT melalui serangkaian kegiatan hati, lisan dan amal perbuatan. Dengan meningkatknya hubungan dengan Allah SWT, maka akan didapatkan banyak hal positif: 1. Kemudahan mendapat ilmu (QS 2:282) 2. Kemudahan menganalisis segala fenomena kehidupan (QS 8:29) 3. Kemudahan menemukan pemecahan masalah (QS 65:4) 4. Kemudahan mendapatkan jalan keluar (QS 65:2) 5. Kemudahan mendapatkan fasilitas kehidupan (QS 65:3) 6. Keberkahan hidup (QS 7:172) 7. Ketenteraman hati. (QS 13) Bila hambaku mendekati aku dengan sejengkal maka aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika mendekat kepadaKu sehasta Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berjalan cepat (Hadis qudsi) Perbaikan ruhiyah dalam perspektif tazkiyatunnafs Imam Ghazali mengikuti urut-urutan sebagai berikut: · Muroqobah : jiwa yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT sehingga ia selalu takut berbuat segala sesuatu yang menimbulkan kemarahanNya. · Muhasabah : jiwa yang selalu memperhitungkan dan mempertimbangkan segala amalannya dalam perspektif kehidupan akhirat · Mu’aqobah : jiwa yang selalu menghukum dirinya apabila terlanjur khilaf berbuat Maksiyat (salah). · Mujahadah : jiwa yang selalu sungguh-sungguh dalam beramal ibadah. Perbaikan Tsaqofiyah Peningkatan kualitas diri seseorang sejajar dengan keluasan wawasan dan kedalaman ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Rasulullah SAW mewajibkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Belajar tiada henti. Sebaiknya setiap kita meningkatkan pengetahuan dasar tentang : 1. Fiqhul ibadah, dengan memperbandingkan berbagai pendapat mazhab 2. Manhaj ikhwan melalui serangkaian referensi utama dan penunjang 3. Pandangan Islam terhadap Ekonomi, Politik, Sosial, Psikologi, Seni Budaya, Hukum dan Keluarga. 4. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kontemporer 5. Perkembangan social, budaya, hukum dan politik kontemporer Di sisi lain, setiap al akh hendaknya menguasai secara baik satu bidang ilmu yang menjadi core competencenya, sehingga orang dapat merujuk kepadanya mengenai permasalahan yang menjadi kompetensinya. Tentu saja perbaikan diri juga menyentuh aspek fisikal, karena tubuh yang kuat dan sehat merupakan modal utama untuk berbuat banyak hal yang bermanfaat. Tubuh yang kuat merupakan salah satu karakteristik utama dalam kepemimpinan (leadership). Allah SWT menyebutkan hal tersebut dengan istilah: · qowwiyul amien (kuat dan terpercaya) (QS 28:26) · bashthotan minal ‘ilmi wal jism (mumpuni dalam ilmu dan jasad ) Dan Imam Syahid Hasan Al Banna mewasiatkan kepada para kader ikhwan agar selalu menjaga kesehatan tubuh dengan melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check up) paling tidak setiap 6 bulan sekali dan menganjurkan untuk tidak mengkonsumsi minuman yang cenderung melemahkan tubuh. Dengan tubuh yang sehat dan bugar maka kualitas amal ibadah dan amal khidmah kita akan semakin meningkat kualitas maupun kuantitasnya.

psikologi parenting – gaya ortu mendidik anak

Memiliki seorang anak adalah suatu peristiwa yang bukan saja menyenangkan bagi seorang individu di dunia ini, melainkan juga merupakan peristiwa yang pasti akan merubah keadaan bagi mereka yang mengalaminya. Majalah Healthscoutnews telah mengungkap betapa besarnya peristiwa kelahiran seorang anak yang digambarkan sebagai sebuah peristiwa jatuhnya bintang kebahagiaan bagi keluarga yang mendapatkannya.

Seorang ibu telah mempersiapkan segalanya selama sembilan bulan sepuluh hari untuk proses penantian kedatangannya. “Kelahiran seorang anak ternyata akan membawa malapetaka sekaligus kebahagiaan” demikian kata Thimoty Galman dalam sebuah seminarnya. Psikolog dari Ukraina Utara ini telah sengaja menyebut malapetaka dengan kebahagiaan sebagai sesuatu yang datang bersamaan dalam kehidupan keluarga, di mana sang anak telah dilahirkan.
Sejak kelahirannya di dunia, orang tua telah memberikan sebuah benang harapan ( yang tentu saja sangat subjektif dan berdasarkan keinginan individual orang tuanya). Benang harapan tersebut akan terus membubung tinggi sejalan dengan obsesi orang tuanya.
Bahkan tidak jarang orang tua yang sudah memfonis anaknya bakal jadi presiden ketika anaknya dibawa pulang dari rumah sakit bersalin. Hal ini akan menunjukkan betapa obsesivitas orang tua akan selalu terbawa bersama kebahagiaannya ketika mereka mendapatkan anak mereka yang baru.

http://www.psikologizone.com/

Tetapi ketika anak tersebut mulai besar, tak ubahnya sebuah kerupuk yang kena air. Obsesi mereka makin lama makin melempem. Semakin lama harapan mereka semakin sirna,di mana pada saat yang samakenakalan demi kenakalan nampak pada anak-anak mereka. Mereka mulai menyadari betapa tidak semudah yang mereka duga sebelumnya, bahwa obsesinya tidak akan mudah terlaksana.

Psikologi Perkembangan Anak dan Permasalahannya

Pada dasarnya seorang anak memiliki 4 masalah besar yang tampak jelas di mata orang tuanya dalam kehidupannya yakni:

1. Out of Law / Tidak taat aturan (seperti misalnya, susah belajar, susah menjalankan perintah, dsb)
2. Bad Habit / Kebiasaan jelek (misalnya, suka jajan, suka merengek, suka ngambek, dsb.)
3. Maladjustment / Penyimpangan perilaku
4. Pause Playing Delay / Masa bermain yang tertunda

Keempat masalah di atas sedikit banyak akan mempengaruhi hubungan antara anak dan orang tuanya. Walaupun keduanya menyadari bahwa mereka memiliki masalah, namun tampaknya mereka (baik orang tua maupun anak) cenderung untuk saling mempertahankan hak-hak mereka , dan bukan mempertahankan kewajiban mereka.

Orang tua dan Permasalahannya

Orang dewasa pada dasarnya memiliki problem yang sama berkaitan dengan hubungan mereka dengan putra/putrinya yakni:

1. Unexperience syndrome, karena mereka baru benar-benar belajar menangani seorang anak justru pada saat mereka benar-benar memiliki anak.
2. Unexpected Action, Orang dewasa lebih sering melakukan tindakan-tindakan yang secara tidak sadar sebenarnya bertentangan dengan keinginan yang sebenarnya.
3. Accidental crime, Orang dewasa lebih sering melakukan tindakan yang diluar batas kemanusiaan justru pada saat ia melihat anaknya memerlukan bantuannya.

Kondisi seperti inilah yang kemudian oleh Sally North disebut sebagai sebuah “kebingungan alamiah”(Natural Crowded). Kebingungan alamiah inilah yang kemudian akan menjadi sumber “malapetaka”menurut Thymoty Galman.
“Banyak orang tua yang merasa khawatir kalau anaknya akan terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya yang penuh dengan kesukaran dan bahaya, serta hal-hal yang kotor. Mereka menahan anak-anaknya supaya di rumah saja tidak boleh bermain atau bergaul dengan anak-anak lain.”

Kebingungan alamiah telah membuat orang tua serba salah dalam mengelola putra/putrinya. Ketika mereka bermaksud untuk melindunginya, orang dewasa memiliki kecenderungan untuk melakukan manuver-manuver yang justru membuat putra/putrinya menjadi sangat tidak aman dan semakin membutuhkan perlindungan atau dengan kata lain tidak dapat mandiri.
Perlu dicatat bahwa hubungan antara orang tua dengan anak sangatlah vertikal. Dalam konteks ini orang dewasa akan menjadi sebuah basis kekuasaan yang tentu akan memunculkan hak kekuasaan yang tiada batasnya terhadap anak-anak mereka.

Di negara-negara maju hubungan antara orang tua dengan anak menjadi benar-benar horisontal sejalan dengan usia anak tersebut menjadi dewasa (16 sampai 17 tahun). Di negara-negara Asia sampai pada usia 22-25 tahun. Di Indonesia rata-rata hubungan horisontal baru dimulai pada individu saat ia berusia 32 tahun.

Hubungan vertikal ini akan menyebabkan terjadinya pola bentuk kekuasaan antara orang dewasa dengan anak pada khususnya. Manipulasi akan sering terjadi manakala hubungan yang terjadi menjadi begitu tidak harmonis. Manipulasi akan dilakukan oleh orang dewasa untuk mengantisipasi kebingungannya dalam mengelola anak-anak mereka.

Manipulasi dalam konteks diatas dapat dikonotasikan dengan sebuah usaha untuk melakukan sesuatu hanya dengan satu tujuan yakni untuk kepentingan pelakunya dan tanpa mempedulikan kepentingan individu yang diperlakukannya.

Ketika orang dewasa melakukan manipulasi, maka ia akan menggunakan dan atau mengendalikan, dan mengembangkan serta memakai cara-cara tertentu untuk kepentingannya secara subjektif tanpa melihat kepentingan subjek lainnya. Sangat disayangkan bahwa manipulasi selalu akan menimbulkan penderitaan bagi individu yang dimanipulir

Hanya pada Alloh SWT

Ketika mimpi dan cita-cita hanya digantungkan pada hal yang sifatnya duniawi maka akan merugi
Ketika kumerenung…setelah aku menjadi psikolog…
Apa sih peran psikolog???
kata dosen, seorang psikolog itu, ibarat kotak sampah maka ia menampung apa pun sampah yang dibuang…ih jelek bnanget emang perumpamaannya
Kata bijak, seorang psikolog adalah orang yang menjadi rujukan sebagai pendengar setia keluh kesah seorang atas masalahnya dan membantu mencarikan solusinya…
Terpikir di benakku, bukankah zat yang tepat untuk berkeluh kesah adalah hanya kepada Alloh SWT….dialah zat Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu….
Alloh lah yang akan memberi jalan keluar…
jika seorang psikolog , dia hanya manusia biasa..yang penuh keterbatasan…
Tapi Alloh selalu ada dimanapun kita berada..
Bahkan Dia (Alloh SWT) selalu memberi apa yang kita butuhkan…
Alloh lah yang memberi solusi setiap masalah kita….
psikolog hanyalah wasilah…
Jika psikolog buka praktek sesuai jam kerja…
Lain dengan Alloh SWT, Dia kapan pun siap mendengarkan dan siap mengabulkan apa pun pinta mu… Bahkan sepertiga malam adalah waktu spesial…dia turun dari langit memberi rahmatNya…
Hanya saja manusia kurang bersyukur atas takdirnya dan kurang bersabar atas ujiannya…
Dalam kondisi apa pun asal kamu tetap bergantung hanya pada Alloh SWT bukan manusia maka hidup akan bahagia…:)

PERAN MUSLIMAH DEWASA INI

Sebenarnya teori peran ini muncul dan berkembang dalam kerangka ilmu social barat. Sementara peran politik terekspresikan dalam kenyataan yang terjadi pada sekumpulan perilaku individu yang terlibat dalam system politik sebagai warga Negara pada umumnya atau lebih khusus lagi sebagai pemimpin Negara. Menurut Hibah Rauf ada beberapa unsure yang dapat dijadikan untuk mendefinisikan peran, sebagai berikut :
a) Peran-peran yang diharapkan ( tawaqqu’ addawr ); yaitu kaidah-kaidah yang mengatur tindakan politik. Atau tindakan yang mempengaruhi tindakan pengambilan keputusan dan pengambilan kekuasaan bagi nilai. Berbagai harapan itu mengisyaratkan dari individu yang menempati suatu kedudukan tertentu.
b) Tumpuan perhatian peran ( tawajjuhat addawr ); ialah pemikiran khusus yang berkaitan dengan individu yang memainkan peranan. Perilaku yang mesti lalui olehnya dalam kondisis tertentu. Pemikiran ini mencerminkan kaidah-kaidah yang dibuat oleh masyarakat tentang kepribadian yang memainkan peranan untuk mencapai harapan-harapan tersebut.
c) Perilaku peran ( Assuluk Addawr ); yaitu tindakan tertentu yang dilakukan oleh individu yang menempati kedudukan tertentu, yang tertumpu pada tindakan yang telah terjadi dan tidak tertumpu kepada apa yang seharunya dilakukan. Perilaku oeran inilah yang akan menentukan kredibilitas polotik seseorang, dan kredibilitas partai/institusinya sekaligus.

Dari unsur-unsur definisi di atas kita melihat bahwa peran politik muslimah adalah suatu peran yang semestinya dijalani oleh setiap muslimah yang memiliki potensi, serta peduli terhadap tuntutan ummat dan berupaya untuk menjalaninya sesuai tuntutan syariat. Dalam menjalani peran politik ini, ada batasan-batasan bagi muslimah yang tidak boleh diabaikan, diantaranya adalah :

a. Kompetensi (ahliyyah )

Kompetensi sejatinya bermakna kesesuaian ( sholahiyyah ). Sebagai syarat dalam pemberian beban kewajiban agama termasuk aktifis politik adalah mukallaf ( yang menanggung beban kewajiban ) adalah sesuai dan berkompeten untuk beban yang hendak diberikan kepadanya. Para ahli usul fiqih mendefinisikannya sebagai kesesuaian manusia terhadap hak dan kewajibannya, sehingga segala tindakan yang keluar daripadanya dibenarkan dari segi agama.

b. Kesadaran berpolitik

Dalam pandangan Islam, wanita memiliki kompetensi politik pada berbagai tingkatan. Hal ini memerlukan suatu tingkat pendidikan tertentu, yang terencana dan terarah. Disamping itu diperlukan pula kepedulian terhadap masalah umum yang ia ketahui, ia pahami dan ia cermati kesalahannya atau kebenarannya. Dalam hal ini wanita sama dengan laki-laki dari segi medan yang ia jadikan tempat untuk berperan dalam memelihara dan membangkitkan masyarakatnya. Perilaku politik wanita tidak mungkin dipahami secara terpisah dari sistim social bagi masyarakat apapun, gerakan politik wanita tidak dapat dipisahkan dari gerakan sosial.

c. Konteks sosial

Keikutsertaan wanita dalam kegiatan politik, yang terbatas pada keahlian dan tingkat kesadarannya, berkaitan dengan konteks sosial yang ada padanya. Hal ini karena gerakan wanita pada kebanyakan masyarakat ditentukan oleh tradisi dan adat istiadat yang dapat menggalakan atau menghalangi kegiatannya dalam bidang politik. Syariat Islam sangat peduli terhadap tradisi social, dan methodologinya tidak menentang arus tersebut, bahkan mengikutinya dan mengubahnya sesuai tuntutan zaman selama tidak bertentangan dengan aqidah, memiliki landasan nashnya dan diakui semua orang.

Posted by Yoyoh Yusroh at 9:22 PM 0 comments    

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.