Archive | Juli 2011

Perbaikan Jiwa

Untuk merawat dan memperbaiki kerusakan hati dan jiwa pada diri individu manusia, Allah SWT telah menciptakan Ramadhan untuk memperbaiki dan merawat raga dan jiwa bagi setiap insan manusia. Agar manusia menjadi manusia yang bertaqwa dan kembali kepada fitrahnya. Tidak akan pernah terbayangkan dalam benak kita semua, bahwa di bulan Ramadhan terdapat pelayanan yang sangat prima dengan kecanggihan luar biasa dari para malaikat yang diperuntukan bagi hamba hamba Alah SWT yang menjalankan ritual ibadah puasa wajib. Pelayanan dan sentuhan dari para malaikat yang tidak kasat mata selalu akrab dengan orang yang menjalankan ritual ibadah puasa. Para malaikat membawa rahmat dan maghfirah yang langsung dari Allah SWT. Hal ini terus terjadi, kapan saja manusia menghendakinya dengan penuh harapan kepada Allah SWT. Dan hal ini hanya berlaku bagi mereka yang beriman kepada Allah SWT. Kebanyakan manusia tidak tahan melewati hari hari pada saat menjalankan ritual ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hal ini terjadi karena proses perbaikan diri manusia yang membongkar habis dalam hal perbaikan dan pembenahan jasmani dan ruhaniah di setiap individu manusia. Sedangkan yang menjadi aturan dalam Ramadhan pun terkait dengan perbuatan yang menjadi kebutuhan utama kehidupan manusia dalam keseharian didalam menjalankan ritual spiritualnya dan sosialisasi di tengah kehidupan bermasyarakat. Dan proses mensucikan jiwa harus menyeluruh, dalam arti, bahwa pembersihan jiwa merupakan perbaikan seluruh dimensi kepribadian yang membentuk diri kita sebagai orang yang beriman dan bertaqwa. Perbaikan diri hendaknya mengarah kepada kesuksesan dan kejayaan hidup sesuai dengan perspektif Al Qur’an. Bila kita rujuk surah Al Hajj: 77, maka Allah memberikan gambaran bahwa kesuksesan itu dapat diraih melalui dua pilar kegiatan: · Meningkatkan hubungan dengan Allah SWT melalui serangkaian ibadah yang berkualitas · Meningkatkan kinerja ‘amal khoir, yang berorientasi pada kemaslahatan hidup dan kehidupan ummat. Sesungguhnya, dengan mengacu kepada kedua pilar itu arah kejayaan hidup menjadi sangat terang dan jelas, dan langkah-langkah perbaikan diri dapat dikembangkan berdasarkan kedua pilar tersebut dalam rangka mempersiapkan diri meraih kesuksesan dan kejayaan. Langkah-langkah perbaikan diri tersebut meliputi: Perbaikan Ruhiyah. Perbaikan aspek ini penting dilakukan untuk meningkatkan pengendalian diri (nafsu) menghadapi segala rangsangan kehidupan dunia yang menggiurkan maupun ancaman kehidupan yang mengguncangkan. Inti perbaikan ruhiyah adalah meningkatnya hubungan dengan Allah SWT melalui serangkaian kegiatan hati, lisan dan amal perbuatan. Dengan meningkatknya hubungan dengan Allah SWT, maka akan didapatkan banyak hal positif: 1. Kemudahan mendapat ilmu (QS 2:282) 2. Kemudahan menganalisis segala fenomena kehidupan (QS 8:29) 3. Kemudahan menemukan pemecahan masalah (QS 65:4) 4. Kemudahan mendapatkan jalan keluar (QS 65:2) 5. Kemudahan mendapatkan fasilitas kehidupan (QS 65:3) 6. Keberkahan hidup (QS 7:172) 7. Ketenteraman hati. (QS 13) Bila hambaku mendekati aku dengan sejengkal maka aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika mendekat kepadaKu sehasta Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berjalan cepat (Hadis qudsi) Perbaikan ruhiyah dalam perspektif tazkiyatunnafs Imam Ghazali mengikuti urut-urutan sebagai berikut: · Muroqobah : jiwa yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT sehingga ia selalu takut berbuat segala sesuatu yang menimbulkan kemarahanNya. · Muhasabah : jiwa yang selalu memperhitungkan dan mempertimbangkan segala amalannya dalam perspektif kehidupan akhirat · Mu’aqobah : jiwa yang selalu menghukum dirinya apabila terlanjur khilaf berbuat Maksiyat (salah). · Mujahadah : jiwa yang selalu sungguh-sungguh dalam beramal ibadah. Perbaikan Tsaqofiyah Peningkatan kualitas diri seseorang sejajar dengan keluasan wawasan dan kedalaman ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Rasulullah SAW mewajibkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Belajar tiada henti. Sebaiknya setiap kita meningkatkan pengetahuan dasar tentang : 1. Fiqhul ibadah, dengan memperbandingkan berbagai pendapat mazhab 2. Manhaj ikhwan melalui serangkaian referensi utama dan penunjang 3. Pandangan Islam terhadap Ekonomi, Politik, Sosial, Psikologi, Seni Budaya, Hukum dan Keluarga. 4. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kontemporer 5. Perkembangan social, budaya, hukum dan politik kontemporer Di sisi lain, setiap al akh hendaknya menguasai secara baik satu bidang ilmu yang menjadi core competencenya, sehingga orang dapat merujuk kepadanya mengenai permasalahan yang menjadi kompetensinya. Tentu saja perbaikan diri juga menyentuh aspek fisikal, karena tubuh yang kuat dan sehat merupakan modal utama untuk berbuat banyak hal yang bermanfaat. Tubuh yang kuat merupakan salah satu karakteristik utama dalam kepemimpinan (leadership). Allah SWT menyebutkan hal tersebut dengan istilah: · qowwiyul amien (kuat dan terpercaya) (QS 28:26) · bashthotan minal ‘ilmi wal jism (mumpuni dalam ilmu dan jasad ) Dan Imam Syahid Hasan Al Banna mewasiatkan kepada para kader ikhwan agar selalu menjaga kesehatan tubuh dengan melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check up) paling tidak setiap 6 bulan sekali dan menganjurkan untuk tidak mengkonsumsi minuman yang cenderung melemahkan tubuh. Dengan tubuh yang sehat dan bugar maka kualitas amal ibadah dan amal khidmah kita akan semakin meningkat kualitas maupun kuantitasnya.

psikologi parenting – gaya ortu mendidik anak

Memiliki seorang anak adalah suatu peristiwa yang bukan saja menyenangkan bagi seorang individu di dunia ini, melainkan juga merupakan peristiwa yang pasti akan merubah keadaan bagi mereka yang mengalaminya. Majalah Healthscoutnews telah mengungkap betapa besarnya peristiwa kelahiran seorang anak yang digambarkan sebagai sebuah peristiwa jatuhnya bintang kebahagiaan bagi keluarga yang mendapatkannya.

Seorang ibu telah mempersiapkan segalanya selama sembilan bulan sepuluh hari untuk proses penantian kedatangannya. “Kelahiran seorang anak ternyata akan membawa malapetaka sekaligus kebahagiaan” demikian kata Thimoty Galman dalam sebuah seminarnya. Psikolog dari Ukraina Utara ini telah sengaja menyebut malapetaka dengan kebahagiaan sebagai sesuatu yang datang bersamaan dalam kehidupan keluarga, di mana sang anak telah dilahirkan.
Sejak kelahirannya di dunia, orang tua telah memberikan sebuah benang harapan ( yang tentu saja sangat subjektif dan berdasarkan keinginan individual orang tuanya). Benang harapan tersebut akan terus membubung tinggi sejalan dengan obsesi orang tuanya.
Bahkan tidak jarang orang tua yang sudah memfonis anaknya bakal jadi presiden ketika anaknya dibawa pulang dari rumah sakit bersalin. Hal ini akan menunjukkan betapa obsesivitas orang tua akan selalu terbawa bersama kebahagiaannya ketika mereka mendapatkan anak mereka yang baru.

http://www.psikologizone.com/

Tetapi ketika anak tersebut mulai besar, tak ubahnya sebuah kerupuk yang kena air. Obsesi mereka makin lama makin melempem. Semakin lama harapan mereka semakin sirna,di mana pada saat yang samakenakalan demi kenakalan nampak pada anak-anak mereka. Mereka mulai menyadari betapa tidak semudah yang mereka duga sebelumnya, bahwa obsesinya tidak akan mudah terlaksana.

Psikologi Perkembangan Anak dan Permasalahannya

Pada dasarnya seorang anak memiliki 4 masalah besar yang tampak jelas di mata orang tuanya dalam kehidupannya yakni:

1. Out of Law / Tidak taat aturan (seperti misalnya, susah belajar, susah menjalankan perintah, dsb)
2. Bad Habit / Kebiasaan jelek (misalnya, suka jajan, suka merengek, suka ngambek, dsb.)
3. Maladjustment / Penyimpangan perilaku
4. Pause Playing Delay / Masa bermain yang tertunda

Keempat masalah di atas sedikit banyak akan mempengaruhi hubungan antara anak dan orang tuanya. Walaupun keduanya menyadari bahwa mereka memiliki masalah, namun tampaknya mereka (baik orang tua maupun anak) cenderung untuk saling mempertahankan hak-hak mereka , dan bukan mempertahankan kewajiban mereka.

Orang tua dan Permasalahannya

Orang dewasa pada dasarnya memiliki problem yang sama berkaitan dengan hubungan mereka dengan putra/putrinya yakni:

1. Unexperience syndrome, karena mereka baru benar-benar belajar menangani seorang anak justru pada saat mereka benar-benar memiliki anak.
2. Unexpected Action, Orang dewasa lebih sering melakukan tindakan-tindakan yang secara tidak sadar sebenarnya bertentangan dengan keinginan yang sebenarnya.
3. Accidental crime, Orang dewasa lebih sering melakukan tindakan yang diluar batas kemanusiaan justru pada saat ia melihat anaknya memerlukan bantuannya.

Kondisi seperti inilah yang kemudian oleh Sally North disebut sebagai sebuah “kebingungan alamiah”(Natural Crowded). Kebingungan alamiah inilah yang kemudian akan menjadi sumber “malapetaka”menurut Thymoty Galman.
“Banyak orang tua yang merasa khawatir kalau anaknya akan terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya yang penuh dengan kesukaran dan bahaya, serta hal-hal yang kotor. Mereka menahan anak-anaknya supaya di rumah saja tidak boleh bermain atau bergaul dengan anak-anak lain.”

Kebingungan alamiah telah membuat orang tua serba salah dalam mengelola putra/putrinya. Ketika mereka bermaksud untuk melindunginya, orang dewasa memiliki kecenderungan untuk melakukan manuver-manuver yang justru membuat putra/putrinya menjadi sangat tidak aman dan semakin membutuhkan perlindungan atau dengan kata lain tidak dapat mandiri.
Perlu dicatat bahwa hubungan antara orang tua dengan anak sangatlah vertikal. Dalam konteks ini orang dewasa akan menjadi sebuah basis kekuasaan yang tentu akan memunculkan hak kekuasaan yang tiada batasnya terhadap anak-anak mereka.

Di negara-negara maju hubungan antara orang tua dengan anak menjadi benar-benar horisontal sejalan dengan usia anak tersebut menjadi dewasa (16 sampai 17 tahun). Di negara-negara Asia sampai pada usia 22-25 tahun. Di Indonesia rata-rata hubungan horisontal baru dimulai pada individu saat ia berusia 32 tahun.

Hubungan vertikal ini akan menyebabkan terjadinya pola bentuk kekuasaan antara orang dewasa dengan anak pada khususnya. Manipulasi akan sering terjadi manakala hubungan yang terjadi menjadi begitu tidak harmonis. Manipulasi akan dilakukan oleh orang dewasa untuk mengantisipasi kebingungannya dalam mengelola anak-anak mereka.

Manipulasi dalam konteks diatas dapat dikonotasikan dengan sebuah usaha untuk melakukan sesuatu hanya dengan satu tujuan yakni untuk kepentingan pelakunya dan tanpa mempedulikan kepentingan individu yang diperlakukannya.

Ketika orang dewasa melakukan manipulasi, maka ia akan menggunakan dan atau mengendalikan, dan mengembangkan serta memakai cara-cara tertentu untuk kepentingannya secara subjektif tanpa melihat kepentingan subjek lainnya. Sangat disayangkan bahwa manipulasi selalu akan menimbulkan penderitaan bagi individu yang dimanipulir

Hanya pada Alloh SWT

Ketika mimpi dan cita-cita hanya digantungkan pada hal yang sifatnya duniawi maka akan merugi
Ketika kumerenung…setelah aku menjadi psikolog…
Apa sih peran psikolog???
kata dosen, seorang psikolog itu, ibarat kotak sampah maka ia menampung apa pun sampah yang dibuang…ih jelek bnanget emang perumpamaannya
Kata bijak, seorang psikolog adalah orang yang menjadi rujukan sebagai pendengar setia keluh kesah seorang atas masalahnya dan membantu mencarikan solusinya…
Terpikir di benakku, bukankah zat yang tepat untuk berkeluh kesah adalah hanya kepada Alloh SWT….dialah zat Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu….
Alloh lah yang akan memberi jalan keluar…
jika seorang psikolog , dia hanya manusia biasa..yang penuh keterbatasan…
Tapi Alloh selalu ada dimanapun kita berada..
Bahkan Dia (Alloh SWT) selalu memberi apa yang kita butuhkan…
Alloh lah yang memberi solusi setiap masalah kita….
psikolog hanyalah wasilah…
Jika psikolog buka praktek sesuai jam kerja…
Lain dengan Alloh SWT, Dia kapan pun siap mendengarkan dan siap mengabulkan apa pun pinta mu… Bahkan sepertiga malam adalah waktu spesial…dia turun dari langit memberi rahmatNya…
Hanya saja manusia kurang bersyukur atas takdirnya dan kurang bersabar atas ujiannya…
Dalam kondisi apa pun asal kamu tetap bergantung hanya pada Alloh SWT bukan manusia maka hidup akan bahagia…:)