Arsip

Untuk Calon Istriku

Kepada Calon Istriku…calon mujahidah….

Assalammu’alaikum Wr. Wb….

Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care… Allah selalu bersama kita.

Calon Istriku…
Masihkah menungguku.. .? Hmm… menunggu, menanti atau whateverlah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?! Menunggu… hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang “istimewa”. Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa. Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu. Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat.

Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan- Nya, melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu, atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati. Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong. Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari “dunia lain” masuk ke jiwa.

Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu. Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih.

Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif. Mumpung waktu kita masih banyak luang. Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga. Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak. Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak.

Karenanya wahai bidadari dunia…
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang. Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda. Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit. Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini ‘Krisis Akhlak’.

Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini. Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit. Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan. Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik. Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri.

Calon Istriku…
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu. Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang. Karena jalan ini masih panjang. Banyak hal yang menghadang. Hatiku pun melagu dalam nada angan. Seolah sedetik tiada tersisakan. Resah hati tak mampu kuhindarkan. Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan. Karang asaku tiada ‘ kan terkikis dari panjang jalan perjuangan hanya karena sebuah kegelisahan. Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan. Keputusan besar untuk datang kepadamu.

Calon Istriku…
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu. Percayalah padaNYA, Yang Maha Pemberi Cinta, bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir. Yakinlah “saat itu” pasti ‘ kan tiba.

Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu. Karena kecantikan hati dan iman yang dicari. Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu. Karena aura keimananlah yang utama. Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga. Merasuk dan menembus relung jiwa.

Wahai perhiasan terindah…
Hidupmu jangan kau pertaruhkan. Hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.

Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil. Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup. Pasrahkan inginmu sedalam kalbu pada tahajjud malammu. Bariskan harapmu sepenuh rindumu pada istikharah di shalat malammu. Pulanglah padaNYA, ke dalam pelukanNYA. Jika memang kau tak sempat bertemu diriku, sungguh itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci. Dan kau terpilih menjadi ainul mardhiyah di jannahNYA.

Calon Istriku…
Skenario Allah adalah skenario terbaik. Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita. Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya. Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita.

Calon istriku…
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah ‘ kan menjelang jua. Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan. Apa kabarkah kau di sana ? Lelahkah kau menungguku berkelana, lelahkah menungguku kau di sana ? Bisa bertahankah kau di sana ? tetap bertahanlah kau di sana . Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu. Bila waktu itu telah tiba, kenakanlah mahkota itu, kenakanlah gaun indah itu. Masih banyak yang harus kucari, ‘tuk bahagiakan hidup kita nanti…

Calon istriku…
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir. Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera, kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang. Cinta membuat hati terasa terpotong-potong. Jika di sana ada bintang yang menghilang, mataku berpendar mencari bintang yang datang. Bila memang kau pilihkan aku tunggu sampai aku datang.

Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat. Dan mendo’akanmu agar kau selalu sehat, bahagia, dan mendapat yang terbaik dari-Nya. Aku tak pernah berharap kau ‘ kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini. Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup. Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini. Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau ‘tuk dikagumi. Akulah orang yang ‘ kan selalu mengagumi, mengawasimu, menjagamu dan mencintaimu.

Calon Istriku…
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu, hanya bisa merindukanmu. Dan tetaplah berharap, terus berharap. Berharap aku ‘ kan segera datang. Jangan pernah berhenti berharap. Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup.

Bila kau jadi istriku kelak, jangan pernah berhenti memilikiku dan mencintaiku hingga ujung waktu. Tunjukkan padaku kau ‘ kan selalu mencintaiku. Hanya engkau yang aku harap. Telah lama kuharap hadirmu di sini. Meski sulit harus kudapatkan. Jika tidak kudapat di dunia, ‘ kan kukejar sang ainul mardhiyah yang menanti di syurga.

Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat, aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu. Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku, pelarian perasaanku dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku. Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti apa yang akan ku hadapi dan apa yang harus kucari dalam hidup.

Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini untuk dirimu yang selalu bijaksana. Aku goreskan syair sederhana ini, untuk dirimu yang selalu mempesona. Memahamiku dan mencintaiku apa adanya. Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku. Semoga…

Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki
(Dewi Khayalan – Daun Band)

Ya Allah… ringankanlah, kerinduan yang mendera. Kupanjatkan sepotong doa setiap waktu, karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku.
Ya Allah… ampuni segala kesilafan hamba yang hina ini ringankan langkah kami. Beri kami kekuatan dan kemampuan tuk melengkapkan setengah dien ini, mengikuti sunnah RasulMu jangan biarkan hati-hati kami terus berkelana tak perpenghujung yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan yang telah Engkau berikan.

Wassalamu’alaikum.

Penuh Cinta Selalu Untuk Selamanya,

Dari yang terkasih…tunggulah aku

This entry was posted on Februari 19, 2010, in 1. 5 Komentar

PENDING….

Sebuah tanda ketidaksiapan atau ketidak percayaan?

menunda untuk sebuah kesiapan katanya?

menyelesaikan suatu yang belum selesai?

apakah ini yang terbaik?

pasti tidak ada yang sia-sia

sebenarnya ku tidak menginginkan cara ini!

karena kasihan dia

akan menjadi beban

bagaimana sikapmu?

mengarahkan saja jawabnya!

Ya Rabb engkau tahu siapa hamba ini?

kumohon ampunan padaMu…

Bantulah aku ya Rabb…

Berikanlah yang terbaik….

Kuingin tetap melangkah…

membuktikan bahwa aku pasti bisa!

Aku Bisa!

Aku Bisa !

Insyallah….Allahu Akbar

T_T

Troenodipan, 26 Januari 2010

Wahai Ikhwan muliakan akhwat, Wahai Akhwat jagalah dirimu

Wanita adalah tiang negara apabila dia baik, maka baik pula negara itu. Itu artinya jika negeri ini diisi oleh wanita-wanita yang sholeha maka harapan negeri yang baldatun warabbun ghofur tidak mustahil untuk segera terwujud. Klo ciri wanita sholeha itu apa semua sudah pada tahu lah buka surat Anisa ato search di google. Lantas yang terpenting adalah bagaimana membuat wanita khususnya di indonesia ini agar menjadi sholeha. Dalam benakku ada pesan yang mengatakan “Wahai Ikhwan muliakan akhwat, Wahai Akhwat jagalah dirimu”.

1. Wahai Ikhwan yang shalih jika kamu memang sholeh pasti kamu akan memuliakn seorang akhwat. Contoh kecil. bagaimana caranya bicara baik-baik dengan akhwat (memanggil nama akhwat dengan baik), bagaimana memperhatikan jam malam akhwat, menundukkan pandangan, saling tolong menolong

2. Akhwat menjaga diri. Akhwat perlu menyadari bahwa dia adalah fitnah dan jangan sampai menjadi fitnah bagi ikhwan lain karena sikap akhwat itu sendiri. Tegaslah dalam bersikap, jangan melembut2kan suaramu, jaga pandangan, jangan manja, jangan caper, hindari Ishrof, berdandan yang sewajarnya saja. Cerdaskan diri dengan menambah ilmu.

Bersambung…..

This entry was posted on Januari 7, 2010, in 1. 2 Komentar

Roti dan Perempuan

Oleh:Emi Rahyuni

Di sebuah sudut terminal kota, di tengah deru mesin kendaraan, berteman debu dan asap yang semakin memperparah polusi udara, seorang nenek tengah menjajakan roti buatannya. Harganya murah, Rp 500. Walau hanya beralaskan meja lapuk dan bertudung daun pisang yang lusuh, tapi toh jualannya laris manis. Di samping karena letaknya yang strategis, tentu saja karena harganya yang murah hingga bisa dijangkau oleh semua orang yang ada di sekitar situ. Hanya butuh beberapa jam saja untuk membuat jualan nenek itu habis terjual. Tiba-tiba datang seorang pemuda dengan maksud membeli roti tersebut.
“Aduh sayang sekali, Nak! Rotinya sudah habis. Tapi kalau kamu masih pengen, di seberang jalan raya itu masih ada kok yang menjual roti seperti ini”
Sang nenek memberi saran. Tanpa pikir panjang lagi, sang pemuda mengikuti arah telunjuk sang nenek. Tak dinyana, tempat yang dimaksud adalah sebuah toko roti yang megah. Sedikit ragu, sang pemuda melangkahkan kakinya untuk masuk. Betapa takjubnya ia ketika mengetahui bahwa ruang jualannya tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, melainkan hanya penjaga toko tersebut. Sementara pengunjung atau calon pembeli hanya boleh melihat dari balik kaca ruang depan dan jika ada roti yang diinginkan tinggal tunjuk saja, penjaga toko yang akan mengambilkannya. Ketakjuban sang pemuda semakin berlebih ketika tahu bahwa di dalam ruangan kaca itu, terdapat beberapa lemari kaca yang di dalamnya berjejer stoples-stoples roti yang juga terbuat dari kaca. Matanya mendapatkan roti yang diinginkannya ada di antara deretan stoples-stoples roti yang di jual itu.
“Benar kata nenek itu”, pikirnya. “Roti yang saya inginkan ada di toko ini”
Sekilas memang roti itu sama dengan yang dijual sang nenek di terminal tadi. Sang penjaga toko pun mengambilkan roti yang ditunjuk oleh sang pemuda. Ia baru mengetahui kalau setiap roti yang di dalam stoples itu masih dibungkus lagi dengan plastik. Belum habis takjubnya, sang pemuda terkejut ketika mendengar harga roti tersebut per buahnya. Rp 5.000, sepuluh kali lipat dari harga roti yang dijual oleh sang nenek. How can?

Ibroh apa yang bisa kita ambil dari kisah roti tersebut? Mahalnya kehormatan. Betapa tidak, setelah dibungkus dengan plastik, roti yang di toko itu masih diletakkan lagi di dalam stoples, dan stoples-stoples itu masih harus diletakkan dalam lemari kaca yang tertutup. Tidak cukup sampai di situ, lemari-lemari kaca itu berada di sebuah ruangan kaca di mana tidak sembarang orang boleh memasukinya.
Seyogianya, seperti itulah perempuan dalam menjaga dan memelihara kehormatannya, tidak mengumbar auratnya kecuali kepada orang yang berhak. Semakin rapat dan tertutup seorang perempuan dalam berhijab, semakin mahal nilai dirinya. Bukan nilai yang dipandang dari segi materi, tapi nilai di mata Allah dan orang-orang beriman.

Saudariku, Allah telah menganugerahkan kepada kita berupa nilai estetika, sensualitas dan kelembutan yang lebih ketimbang laki-laki. Maka, masih belum cukupkah bagi kita untuk mensyukurinya dengan menjaga dan memeliharanya sebaik mungkin?
Kita memang tidaklah secantik bidadari-bidadari surga yang bermata jeli itu. Tapi kita bisa membuat mereka cemburu kepada kita, jika kita mampu menjaga kehormatan kita, berhijab serapat mungkin, menaati suami, serta melaksanakan perintah Allah yang lainnya.

Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.
Allahu’alam.

in my way

I have my soul…its follow

I want to get something

but realize its different

I dont know why

trully make me comfort

far but beautifull

near its not

sometimes…loneliness….there is empty street I got

go ahead!

slowly but sure I can reach it…

Yes I do AGAiNST THE WORLD

its about learning in my way

CINTA

Apakah itu cinta?? ya…cinta adalah sesuatu hal yang wajib kita syukuri… aku yakin …kita semua pernah mendapatkan cinta…walaupun kita pernah mengalami sakit, karena cinta…tapi itu bukanlah akhir dari segalanya…pasti ada cinta yang lebih baik yakni  cinta yang terbaik…tapi jika mendapatkan cinta yang terbaik itu..jangan pernah sia-siakan…jagalah dia dengan sepenuh hati…jangan beri dia harapan palsu…yang hanya memberikan kata-kata manis dan janji yang sama sekali tidak bertanggungjawab…karena itu hanya akan membuatnya selalu terluka…

Dari Sagita Nola Putri – Putri Minang

Roma Irama

Setiap keindahan perhiasan dunia
Hanya isteri salehah perhiasan terindah

Setiap keindahan yang tampak oleh mata
Itulah perhiasan, perhiasan dunia

Namun yang paling indah di antara semua
Hanya isteri salehah, isteri yang salehah

Setiap keindahan perhiasan dunia
Hanya isteri salehah perhiasan terindah

Hanya isteri yang beriman
Bisa dijadikan teman
Dalam tiap kesusahan
Selalu jadi hiburan

Hanya isteri yang salehah
Yang punya cinta sejati
Yang akan tetap setia
Dari hidup sampai mati
Bahkan sampai hidup lagi

This entry was posted on Agustus 10, 2009, in 1. 1 Komentar

Dunia bagai nerakaku

inginku gapai langit tapi Dunia ini menarikku
Ingin ku miliki akheratku tapi dunia menjeratku
inginku raih matahariku tapi dunia menjauhkanku
sabarku untuk dunia yang selalu mengejarku, menghalangiku, menghimpitku..

Kuingin melepaskan dunia ini tapi dia makin dekat denganku
Ya Allah jadika dunia di tanganku jangan di hatiku
Mudahkanlah urusan duniaku dan akheratku….

Lakukan terbaik yang bisa dilakukan

Bila melihat apa yang kuhadapi sekarang banyak yang harus kupertimbangkan..banyak pilihan..semua kuanggap tantangan.. dalam kebimbangan kucoba cari jalan keluar. Kuhanya bisa merencanakan, Allahlah yang menentukan. Ya Allah Engkau Maha tahu yang tebaik buat hambaMu ini. Dalam idealita hamba ingin bisa membahagiakan orang tua segera lulus dan bekerja dengan bisa memberi sesuatu dari hasil kerja keras hamba. Tapi hingga saat ini hambamu ini belum punya penghasilan sendiri yang cukup bahkan sering kurang untuk hidup mandiri. Banyak peluang kerja yang menawari, akan tetapi berbenturan dengan waktu amanah dakwah. Amanah dakwah ini menuntutku all out, dan butuh pengorbanan waktu yang mana terbentur oleh profesionalitas tempat kerja. Kalau mo kerja masih ada amanah dakwah ayng mengharuskan sering pergi keluar kota. TAPI BILA KUPUTUSKAN BEKERJA AKU TIDAK mau meninggalkan amanah dakwah ini. Aku bingung. Tawaran mencari ppendamping sempat dijadikan solusi. Tapi aku belum menemukan dia. Dan yang membuatku khawatir apakah dia akan menerima kondisiku dan kondisi keluargaku, Aku takut jadi beban. Ya Allah tuntun hambaMu ini pada amal yang membawa kebaikan ku untuk di dunia dan diakherat…akhirnya kumemutuskan jalani apa yang dihadapan, dan berusaha melakukan terbaik yang sekarang bisa dilakukan…Ya Allah..Please…Guide me…kuingin menjadi perhiasan dunia yang paling indah yang selalu terjaga…hingga ke syurgaMu

This entry was posted on Juli 2, 2009, in 1. 1 Komentar

PEREMPUAN SEMPURNA

Siapakah Kau, Perempuan Sempurna?
Sebuah Catatan Kecil Afifah Afra

Ketika akhirnya saya dilamar oleh seorang lelaki, saya luruh dalam kelegaan. Apalagi lelaki itu, kelihatannya ‘relatif’ sempurna. Hapalannya banyak, shalih, pintar. Ia juga seorang aktivis dakwah yang sudah cukup matang. Kurang apa coba?

Saya merasa sombong! Ketika melihat para lajang kemudian diwisuda sebagai pengantin, saya secara tak sadar membandingkan, lebih keren mana suaminya dengan suami saya.

Sampai akhirnya air mata saya harus mengucur begitu deras, ketika suatu hari menekuri 3 ayat terakhir surat At-Tahrim. Sebenarnya, sebagian besar ayat dalam surat ini sudah mulai saya hapal sekitar 10 tahun silam, saat saya masih semester awal kuliah. Akan tetapi, banyak hapalan saya menguap, dan harus kembali mengucur bak air hujan ketika saya menjadi satu grup dengan seorang calon hafidzah di kelompok pengajian yang rutin saya ikuti.

Ini terjemah ayat tersebut:

66:10. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.

66:11. Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”,

66: 12. dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.

SEBUAH KONTRADIKSI

Ada 4 orang yang disebut dalam 3 ayat tersebut. Mereka adalah Istri Nuh, Istri Luth, Istri Firaun dan Maryam. Istri Nuh (IN), dan Istri Luth (IL) adalah symbol perempuan kafir, sedangkan Istri Firaun (IF) dan Maryam (M), adalah symbol perempuan beriman. Saya terkejut, takjub dan ternganga ketika menyadari bahwa ada sebuah kontradiksi yang sangat kuat. Allah memberikan sebuah permisalan nan ironis. Mengapa begitu?

IN dan IL adalah contoh perempuan yang berada dalam pengawasan lelaki shalih. Suami-suami mereka setaraf Nabi (bandingkan dengan suami saya! Tak ada apa-apanya, bukan?). Akan tetapi mereka berkhianat, sehingga dikatakanlah kepada mereka, waqilad khulannaaro ma’ad daakhiliin…
Sedangkan antitesa dari mereka, Allah bentangkan kehidupan IF (Asiyah binti Muzahim) dan M. Hebatnya, IF adalah istri seorang thaghut, pembangkang sejati yang berkoar-koar menyebut “ana rabbakumul a’la.” Dan Maryam, ia bahkan tak memiliki suami. Ia rajin beribadah, dan Allah tiba-tiba berkehendak meniupkan ruh dalam rahimnya. Akan tetapi, cahaya iman membuat mereka mampu tetap bertahan di jalan kebenaran. Sehingga Allah memujinya, wa kaanat minal qaanithiin…

PEREMPUAN SEMPURNA

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
“Sebaik-baik wanita penghuni surga itu adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Firaun, dan Maryam binti Imran.” (HR. Ahmad 2720, berderajat shahih).
Empat perempuan itu dipuji sebagai sebaik-baik wanita penghuni surga. Akan tetapi, Rasulullah saw. masih membuat strata lagi dari 4 orang tersebut. Terpilihlah dua perempuan yang disebut sebagai perempuan sempurna. Rasul bersabda, “Banyak lelaki yang sempurna, tetapi tiada wanita yang sempurna kecuali Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya keutamaan Asiyah dibandingkan sekalian wanita adalah sebagaimana keutamaan bubur roti gandum dibandingkan dengan makanan lainnya.” (Shahih al-Bukhari no. 3411).

Inilah yang membuat saya terkejut! Bahkan perempuan sekelas Fathimah dan Khadijah pun masih ‘kalah’ dibanding Asiyah IF dan Maryam binti Imran. Apakah gerangan yang membuat Rasul menilai semacam itu?

Ah, saya bukan seorang mufassir ataupun ahli hadits. Namun, dalam keterbatasan yang saya mengerti, tiba-tiba saya sedikit meraba-reba, bahwa penyebabnya adalah karena keberadaan suami. Khadijah, ia perempuan hebat, namun ia tak sempurna, karena ia diback-up total oleh Muhammad saw., seorang lelaki hebat. Fathimah, ia dahsyat, namun ia tak sempurna, karena ada Ali bin Abi Thalib kw, seorang pemuda mukmin yang tangguh.

Sedangkan Asiyah? Saat ia menanggung deraan hidup yang begitu dahsyat, kepada siapa ia menyandarkan tubuhnya, karena justru yang menyiksanya adalah suaminya sendiri. Siksaan yang membuat ia berdoa, dengan gemetar, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.” Siksaan yang membuat nyawanya terbang, ah… tidak mati, namun menuju surga. Mendapatkan rizki dan bersukaria dengan para penduduk akhirat.

Bagaimana pula dengan Maryam? Ia seorang lajang yang dipilih Allah untuk menjadi ibunda bagi Nabi Isa. Kepada siapa ia mengadu atas tindasan kaumnya yang menuduh ia sebagai pezina?
Pantas jika Rasul menyebut mereka: Perempuan sempurna…

JADI, YANG MENGANTAR ke Surga, Adalah Amalan Kita

Jadi, bukan karena (sekadar) lelaki shalih yang menjadi pendamping kita. Suami yang baik, memang akan menuntun kita menuju jalan ke surga, mempermudah kita dalam menjalankan perintah agama. Namun, jemari akan teracung pada para perempuan yang dengan kelajangannya (namun bukan sengaja melajang), atau dengan kondisi suaminya yang memprihatinkan (yang juga bukan karena kehendak kita), ternyata tetap bisa beramal dan cemerlang dalam cahaya iman. Kalian adalah Maryam-Maryam dan Asiyah-Asiyah, yang lebih hebat dari Khadijah-Khadijah dan Fathimah-Fathimah.
Sebaliknya, alangkah hinanya para perempuan yang memiliki suami-suami nan shalih, namun pada kenyataannya, mereka tak lebih dari istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Yang alih-alih mendukung suami dalam dakwah, namun justru menggelendot manja, “Mas… kok pergi pengajian terus sih, sekali-kali libur dong!” Atau, “Mas, aku pengin beli motor yang bagus, gimana kalau Mas korupsi aja…”
Benar, bahwa istri hebat ada di samping suami hebat. Namun, lebih hebat lagi adalah istri yang tetap bisa hebat meskipun terpaksa bersuamikan orang tak hebat, atau bahkan tetapi melajang karena berbagai sebab nan syar’i. Dan betapa rendahnya istri yang tak hebat, padahal suaminya orang hebat dan membentangkan baginya berbagai kemudahan untuk menjadi hebat. Hebat sebagai hamba Allah!
Wallahu a’lam bish-shawwab.

This entry was posted on Juni 17, 2009, in 1. 1 Komentar