OCD ( Obsesif Compulsif Disorder )   2 comments

Selasa, 13 Januari 2009
Alhamdulillah resmi menjadi guru Privat bahasa inggris di Modern Islamic School. Tantangan baru…Dibalik kesyukuran ada keprihatianan. Kebetulan saya dari psikologi, ada guru yang mendekati saya, awalnya cuma perkenalan tapi berikutnya bliau menceritakan kondisi bliau yang mengalami OCD:  ” Mbak, sudah cukup lama saya menderita OCD,  saya sering bolak-balik mencuci tangan habis makan, selain itu juga klo berjalan selalu menghitung tegel lantai berulang-ulang.  perilaku ini bila tidak saya kerjakan maka akan sangat mengganggu aktivitas saya selain itu juga perasaan tidak puas dan malu”.  Ini jelas simptomn OCD.
Sebenarnya apa sich OCD? OCD singkatan dari Obsesif-compulsif Disorder. Dahulu kelainan ini dinamakan ‘penyakit keraguan’ (Doubting Disease) ketika ditemukan pertama kali tahun 1902 oleh Pierre Janet. Freud percaya bahwa kelainan ini adalah permulaan dari kelainan-kelainan psikologi yang lain, keraguan yang obsesif adalah respon negatif (maladaptive / akibat dari tidak bisanya seseorang beradapatasi) terhadap perasaan bersalah, sedangkan perilaku kompulsif (pengulangan) adalah bentuk perlawanan dari perasaan bersalah tadi. Hasilnya, tidak mengejutkan jika sampai terjadi perasaan malu / rendah diri yang berlebihan, diatas dari tekanan rasa ingin tahu, sehingga secara aneh akan menimbulkan perasaan marah dan kecewa.
Gangguan obsesif kompulsif merupakan salah satu jenis gangguan anxietas. Gangguan anxietas adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya kecemasan yang berlebihan dan muncul dalam berbagai gejala. Pada gangguan obsesif kompulsif, gejala dapat berupa pikiran yang terus berulang tanpa bisa dikendalikan (obsesif), tindakan berulang yang tidak bisa dikendalikan untuk menjalankan pikiran obsesif (kompulsif) yang menganggu produktifitas sehari hari. Sebenarnya kecemasan merupakan perilaku normal dalam proses adaptasi dengan hal-hal baru Misalnya, siswa yang akan menghadapi ujian, dilanda sedikit kecemasan yang akan mendorong ia untuk mempersiapkan diri, belajar. Tindakan tersebut dikategori abnormal bila (tingkatan) reaksinya tidak sesuai dengan proporsi ’ancaman’. Responnya tidak realistik dan tidak make-sense, yang biasanya di deteksi dari timbulnya perilaku kompulsif.
Perilaku kompulsif sebagaimana yang dicontohkan di atas merupakan ejawantah dari pikiran yang obsesif, yaitu, pikiran, ide atau dorongan yang intrusif dan berulang yang berada di luar kemampuan seseorang untuk mengendalikan. Adanya keyakinan bahwa memikirkan tentang kejadian yang berpotensi tidak mengenakkan membuat kejadian tersebut lebih besar kemungkinannya untuk benar-benar terjadi. Berpikiran negatif, ciri utama pengidap OCD. Walaupun kadang bagi si pelakon / pengidap OCD obsesi tersebut nampak sebagai suatu argumen logis. Misalnya kekhawatiran akan masa depan, membuat seseorang jadi terobsesi untuk belajar terus-menerus, karena takut tersaingi oleh yang lain. Motivasinya menuntut ilmu untuk berkompetisi bukan karena senang belajar. Gimana kalo coba dihilangkan ( yang menjadi sumber kecemasannya )? malah bisa menimbulkan efek paradoksikal.  ( kecemasan yang memunculkan ) gambaran mental dalam bentuk fantasi berulang, kalo semakin ditekan ( berusaha direpress ) semakin kuat memunculnya tindakan kompulsif yang secara garis besar tergambar dari tindakan: checking atau cleaning.
Penderita OCD umumnya sewaktu masa remaja atau awal masa kanak-kanak yang biasanya terjadi pada usia 10 tahun, dan pada orang dewasa pada umumnya sekitar umur 21 sampai 36 tahun. Penderita dialami oleh pria dan wanita, pada pria umumnya OCD dialami pada masa kanak-kanak dan pada wanita umumnya pada usia dua puluhan. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan pengaruh OCD antara lain:
1. Keturunan (genetik), bila terdapat salah satu bagian keluarga yang memiliki sejarah dengan OCD maka akan meningkatkan perkembangan OCD itu sendiri.
2. Organik, masalah-masalah tertentu pada otak.
3. Lingkungan, beberapa peneliti menyatakan bahwa OCD berasal dari kebiasaan perilaku dari waktu ke waktu.

4. Konflik, mereka yang menderita OCD biasanya sedang menghadapi sebuah konflik jiwa menyangkut masalah hidup. Seperti hubungan suami istri, percaya diri, dll. Yang nantinya akan memunculkan tekanan dan akan timbul gejala dari OCD itu sendiri.

5.Infeksi, Stress serta Hubungan interpersonal yang negatif.

6. masalah pola asuh. Biasanya anak yang dididik dengan disiplin yang kaku, keras dan penuh tuntutan sesuai platform yang orangtua inginkan, berpeluang menumbuhkan OCD. Keluarga yang menerapkan level yang harus dipenuhi anak agar bisa di terima / di perhatikan oleh anggota keluarganya

Terkadang sulit untuk mengidentifikasi adanya OCD pada diri kita. Umumnya penderita OCD beberapa gejala, diantaranya:
1. Ada preokupasi dengan detail, aturan, daftar, urutan, organisasi (jadwal) sehingga tujuan utama kegiatan terlupakan. (Preokupasi = yang dilakukan harus sempurna)
2. Melakukan perbuatan secara berulang atau berlebihan (keterlaluan dalam kebersihan, memeriksa berkali-kali, terlalu patuh pada peraturan)
3. Tidak mampu membuang barang-barang bekas atau tidak berharga, bahkan jika barang-barang itu tidak mempunyai nilai sentimental
4. Menunjukkan rigiditas (kekakuan) dan kekeraskepalaan
5. Merasa gelisah, was-was, resah

Pandangan para ahli: OCD didorong oleh kebutuhan yang tidak masuk akal untuk merasa kompeten, bahkan sempurna. Jika tidak demikian, orang yang bersangkutan merasa tidak berharga (Mc Fall & Wollensheim, 1979)
Alfred Adler says: ”kompleks inferioritas dan secara tidak sadar dapat melakukan ritual kompulsif untuk menciptakan suatu wilayah dimana mereka dapat menggunakan kendali dan merasa terampil.”

Contoh pada anak:  Secara garis besar, anak yang memiliki kompleks inferioritas (rendah diri, minder) akan ketakutan kalo ia tidak bisa memenuhi standard harapan dari lingkungannya. Lingkungan dianggap sebagai suatu ancaman. Karena itu ia harus memacu diri agar bisa ’lebih’ dibanding yang lain. Bagi anak-anak, umumnya, sekolah menjadi ajang ekspresi pengakuan diri. Kalo otak mendukung, biasanya anak-anak ini akan berhasil dalam prestasi akademis. Sekali lagi, prestasinya didorong karena khawatir persaingan, bukan karena spirit cinta ilmu.
Kenapa minder? Karena selalu dibandingkan. Anak dituntut untuk meniru platform tertentu. Bukannya dimotivasi untuk menemukan jati dirinya, sebagaimana yang Allah ta’ala amanahkan pada setiap diri.. OCD biasanya bermula dari keluarga, permulaannya sering terjadi ketika pada kejadian yang menimbulkan tingkat stress yang tinggi dan sudah dimulai sejak masa kanak-kanak.
Menurut Salvoskis “OCD biasanya muncul ketika terjadi perubahan besar yang terjadi dari segi pengambil-alihan tanggung jawab, misalnya peristiwa pertama kali mempunyai anak, atau kuliah, atau mendapat promosi kenaikan jabatan”
Apa yang terjadi? ternyata kecemasan pikiran dapat timbul pada diri seseorang dan hal itu menjadi sesuatu yang sangat penting (signifikan), “Kebanyakan wanita yang pertama kali menjadi ibu kuatir bila pada suatu saat berhenti bernafas dan mereka sadari bahwa itu adalah sekedar pemikiran mereka saja. Pada wanita penderita OCD, pemikiran itu juga muncul namun mereka menjadi kuatir bila mereka mengabaikan kekuatiran itu tadi, atau menganggap bila mereka memikirkan hal itu mereka menjadi lebih bertanggung jawab kepada keadaan bayi mereka”
Salvoskis menegaskan bahwa OCD adalah masalah budaya yang spesifik – dan obsesi akan rasa takut yang biasanya muncul adalah rasa takut yang sebetulnya juga muncul di masyarakat luas.
Sipilis menjadi suatu bencana yang menakutkan pada abad ke 18 ketika saat itu dimulainya kesadaran akan bahaya kuman.
OCD Bisa Disembuhkan
( walaupun tidak mudah ) dan jalannya adalah ketika penderita harus dihadapkan pada ketakutannya yang paling besar dan berani menerima kenyataan. Terapi yang dianjurkan oleh National Institute for Clinical Excellence, adalah Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behaviour Therapy / CBT) dan mungkin dalam pelaksanaannya diberikan obat antidepresan pada kasus-kasus yang serius.
“Merawat penderita OCD dengan metode CBT bisa mencapai tingkat kesuksesan yang tinggi, walaupun terapi bersifat sangat tergantung kepada komitmen penderita dan psikiater” tutur dr. John Morgan (psikiater Leeds University). Si penderita harus percaya penuh kepada terapisnya ketika mereka terkuak menjadi objek penderita dari obsesinya sampai pada masa kecemasan yang tidak perlu itu hilang dengan sendirinya.
“Terapi pada penderita OCD bersifat spesifik dan tidak akan berhasil jika menggunakan teknik psikoterapi penggalian masa kanak-kanak bisa menambah rasa frustasi pada penderita dan memperparah kecemasan mereka”
Barbara Trousdale sudah mencoba terapi beberapa kali untuk mengobati OCD nya, tetapi kerap tidak menunjukan hasil karena sesuatu alasan dan banyak alasan lainnya. Dan ketika ia merasa di saat yang paling frustasi di dalam hidupnya pun ia masih berbantah-bantah kepada pilihan terapi.

Posted Januari 14, 2009 by perhiasandunia in 1

Tagged with

2 responses to “OCD ( Obsesif Compulsif Disorder )

Subscribe to comments with RSS.

  1. sy merasa mengidap ocd,dan kasusu sy lebih parah drpd sekedar mencuci tangan dll,sy suka bertanya berulang2 dan penuh keraguan dr jawaban org,sy rasa ini gila bgt,dan sy tdk tau penyelesaiannya sampai skrng,sy depresi,psikologpun tdk bs membantu sy.tx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: