Roti dan Perempuan   Leave a comment

Oleh:Emi Rahyuni

Di sebuah sudut terminal kota, di tengah deru mesin kendaraan, berteman debu dan asap yang semakin memperparah polusi udara, seorang nenek tengah menjajakan roti buatannya. Harganya murah, Rp 500. Walau hanya beralaskan meja lapuk dan bertudung daun pisang yang lusuh, tapi toh jualannya laris manis. Di samping karena letaknya yang strategis, tentu saja karena harganya yang murah hingga bisa dijangkau oleh semua orang yang ada di sekitar situ. Hanya butuh beberapa jam saja untuk membuat jualan nenek itu habis terjual. Tiba-tiba datang seorang pemuda dengan maksud membeli roti tersebut.
“Aduh sayang sekali, Nak! Rotinya sudah habis. Tapi kalau kamu masih pengen, di seberang jalan raya itu masih ada kok yang menjual roti seperti ini”
Sang nenek memberi saran. Tanpa pikir panjang lagi, sang pemuda mengikuti arah telunjuk sang nenek. Tak dinyana, tempat yang dimaksud adalah sebuah toko roti yang megah. Sedikit ragu, sang pemuda melangkahkan kakinya untuk masuk. Betapa takjubnya ia ketika mengetahui bahwa ruang jualannya tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, melainkan hanya penjaga toko tersebut. Sementara pengunjung atau calon pembeli hanya boleh melihat dari balik kaca ruang depan dan jika ada roti yang diinginkan tinggal tunjuk saja, penjaga toko yang akan mengambilkannya. Ketakjuban sang pemuda semakin berlebih ketika tahu bahwa di dalam ruangan kaca itu, terdapat beberapa lemari kaca yang di dalamnya berjejer stoples-stoples roti yang juga terbuat dari kaca. Matanya mendapatkan roti yang diinginkannya ada di antara deretan stoples-stoples roti yang di jual itu.
“Benar kata nenek itu”, pikirnya. “Roti yang saya inginkan ada di toko ini”
Sekilas memang roti itu sama dengan yang dijual sang nenek di terminal tadi. Sang penjaga toko pun mengambilkan roti yang ditunjuk oleh sang pemuda. Ia baru mengetahui kalau setiap roti yang di dalam stoples itu masih dibungkus lagi dengan plastik. Belum habis takjubnya, sang pemuda terkejut ketika mendengar harga roti tersebut per buahnya. Rp 5.000, sepuluh kali lipat dari harga roti yang dijual oleh sang nenek. How can?

Ibroh apa yang bisa kita ambil dari kisah roti tersebut? Mahalnya kehormatan. Betapa tidak, setelah dibungkus dengan plastik, roti yang di toko itu masih diletakkan lagi di dalam stoples, dan stoples-stoples itu masih harus diletakkan dalam lemari kaca yang tertutup. Tidak cukup sampai di situ, lemari-lemari kaca itu berada di sebuah ruangan kaca di mana tidak sembarang orang boleh memasukinya.
Seyogianya, seperti itulah perempuan dalam menjaga dan memelihara kehormatannya, tidak mengumbar auratnya kecuali kepada orang yang berhak. Semakin rapat dan tertutup seorang perempuan dalam berhijab, semakin mahal nilai dirinya. Bukan nilai yang dipandang dari segi materi, tapi nilai di mata Allah dan orang-orang beriman.

Saudariku, Allah telah menganugerahkan kepada kita berupa nilai estetika, sensualitas dan kelembutan yang lebih ketimbang laki-laki. Maka, masih belum cukupkah bagi kita untuk mensyukurinya dengan menjaga dan memeliharanya sebaik mungkin?
Kita memang tidaklah secantik bidadari-bidadari surga yang bermata jeli itu. Tapi kita bisa membuat mereka cemburu kepada kita, jika kita mampu menjaga kehormatan kita, berhijab serapat mungkin, menaati suami, serta melaksanakan perintah Allah yang lainnya.

Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.
Allahu’alam.

Posted Oktober 9, 2009 by perhiasandunia in 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: